Showing posts with label My preferences tales. Show all posts
Showing posts with label My preferences tales. Show all posts

Monday, January 7, 2013

Cahaya Mata Rasulullah



Beberapa waktu lalu, seorang kerabat datang ke rumah. Usianya udah sekitar 60-70 tahunan. Waktu gue masi kecil, dia sempet ngontrak di daerah rumah gue dan sekarang sudah pindah ke daerah puncak . Jadi dia adalah kerabat merangkap mantan tetangga.

Melihat kedatangan dia feeling gue udah langsung ga enak. Alasan dia menyambangi kami adalah mengunjungi anaknya yang tinggalnya juga ga jauh dari kami, padahal gue tau banget Visi dan Misi-nya apa . Untuk diketaui aja. Dia adalah penganut Syi’ah  garis keras, Karena selain menganut, dia juga merekrut. Umi gue adalah orang paling Husnuzhon di dunia. Walaupun dia tahu tabiat orang ini, Umi tetep menemani ngobrol dan nyediain makanan buat dia.

Ketika gue pulang kantor, dia udah ada dan lagi ngobrol sama umi. Sependengaran gue, yang di omongin masih hubungan kekerabatan mereka. Anaknya yang udah menikah, kabar saudara-saudaranya, dan lain-lain.

Menjelang maghrib ngomongannya udah mulai menjurus ke arah doktrin. Gue udah mulai males dan meninggalkan mereka yang masih ngobrol. Setelah Sholat manghrib gue denger dari arah ruang tamu suara umi gue yang pamit untuk melaksanakan Sholat. Tapi dia mengeluarkan statement kalo sholatnya nanti saja, digabung dengan isya. Umi udah mulai gerah dan menegaskan kalau itu adalah ajarannya, bukan ajaran kami dan meninggalkan dia untuk menjalankan sholat. Setelah sholat, lagi-lagi karena menghargai tamu, umi kembali menemaninya dan ngobrol ngalur ngidul.

Dari kamar terdengar jelas obrolan mereka. Sayidina Husein, Sayyidina Ali, dan para sahabat di dikte satu satu. Dia menegaskan betapa baik ajarannya, dan betapa ajaran kami adalah ajaran sesat. Umi bener-bener sabar. Berulang-ulang umi bilang : “Itu kan menurut ajaran kamu, beda dengan saya dan saya tidak akan terpengaruh”. Singkat cerita, mereka ngobrol sampe jam sembilan malem. Dia pun pamit dan karena udah tua, Abang gue mengantar orang tersebut sampe rumah anaknya.

Gue ga Masalah itu orang mau punya ajaran apa dan bagai mana. Tapi kalo dia ujuk-ujuk datang ke rumah dan mencaci maki orang-orang yang kami hormati dan agung-kan. Saiapa yang ga Kesel.? Bay the way, ini baru prolog loh. Yang gue mau tulis sebenarnya adalah cerita lain. Cerita yang karenanya orang tadi cape-cape datang ke rumah gue  dan mendoktrin kami, yang mudah-mudah sudah terdoktrin terlebih dahulu oleh ajaran yang kami anggap benar dan insya Allah di Ridho-i Allah.

Pertama-tama yang kita perlu ketahui adalah Ajaran yang dia Anut. ajaran ini namanya SYIAH. Ajaran yang berkembang di Iran ini. merupakan orang-orang yang meninggi kan Keturunan Rasulullah. Loh, ga ada masalah dong, bukan kan Sunni juga menagungkan keturunan Rasulullah ? Nah bedanya, Ajaran ini, kalo udah garis keras, mereka akan menyalahkan Sahabat-sahabat Nabi terdahulu, Khususnya  Syd.  Abubakar, Umar, dan Utsman. Selengkapnya gue ga tau dan ga mau sok tau. Pertanyaan yang timbul selanjutnya, Emang apaan sih yang terjadi sama keturunan Rasulullah dulu sampe akhirnya  mereka membenci Sahabat. Nah cerita ini nih yang mau gue coba paparkan. Cerita ini bukannya gue ngarang-ngarang ya. Tapi yang gue dapet dari Guru-guru Ahlussunnah yang berpatokan dari dari berbagai buku dan kitab yang insya Allah dapat dipertanggung jawabkan.

Sebelum meninggal Rasulullah pernah berpesan Kepada Sahabat
“Nanti ketika aku tiada, masa ke-Khalifahan akan berlangsung selama 30 tahun, dan selebihnya adalah Kerajaan. “
Perbedaan antara Khalifah dengan Kerajaan salah satunya adalah cara mereka memilih pemimpin. Kalau Khalifah di bentuk berdasarkan musyawarah, maka seperti yang kita ketahui, Kerajaan adalah sebuah system kepemimpinan yang turun temurun.

Setelah Rasulullah wafat, Khalifah muslim dipimpin oleh Abubakar ibn Siddiq RA, Lalu dilanjurkan dengan Syd Umar Bin Khattab, Syd Utsman Ibn Affan, dan Syd Ali binAbi Tholib. Nah, yang jarang di ketahu oleh kita para muslim, Khalifah selanjutnya adalah Syd Hasan ibn Ali ibn Abi Tholib. Yang tidak lain merupakan Cucu Rasulullah. Yang bila dihitung masa kepemimpinan ke-5 Khalifah tersebut persis 30 tahun. Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah. Walaupun Hanya menjabat selama 7 bulan, Namun Al- Hasan Telah melakukan keputusan besar dalam masa kepemimpinannya.

Sebelum masa kepemimpinannya, yaitu ketika Ayahnya yang menjadi Khalifah, Umat muslim terpecah menjadi dua, yaitu yang memberontak, dan yang pro terhadap kebijakan Syd. Ali. Setelah akhirnya Al-Hasan yang terpilih menjadi Khalifah berdasarkan musyawarah Ummat, para pemberontak terus melakukan aksi yang meresahkan warga Madinah. Akhirnya Al-Hasan sebagai Amirul Mukminin  meminta Muawwiyah, pemimpin pemberontak, untuk berdialog dan menyelesaikan konflik yang terjadi diantara dua kubu.

 Setelah kedua-nya berunding, maka Muawwiyah menyetujui untuk beradmai apabila Al-Hasan mau menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Mendengar hal itu, Husein yang merupakan Adik Kandung dari Hasan menolak dan tidak setuju dengan permintaan Muawwiyah. Namun, Hasan berpendapat lain. Ia menyetujui untuk menyerahkan kepemimpinannya, asalkan kedua kubu berdamai. Selain itu Hasan meminta syarat lain. Kubu pemberontak terkenal dengan kebiasaan mereka mengolok-olok Syd. Ali bin Abi Tholib, yang merupakan ayah Hasan. Hasan pun mengajukan hal itu sebagai syarat. Ia tidak ingin lagi mendengar Ayahnya dicaci maki. Tanpa disangka muawwiyah tidak menyetujui hal itu. Menurutnya mencaci maki Ali sudah merupakan kebiasaan mereka yang sulit untuk dihilangkan. Muawwiyah pun menawar syarat itu. Mereka berjanji tidak akan memperolok Ali tapi hanya dihadapan para pendukungnya. Tidak untuk kalangan mereka. Mendengar perkataan Muawwiyah, Husein Menjadi tambah berang.

“ Sungguh Muawwiyah, Kakakku telah setuju untuk memberikan kekuasaannya padamu, bahkan untuk tidak memperolok Ayah kami saja kamu tidak mau. Pemimpin seperti apa yang nantinya akan menjadi panutan kami ?”

“Uskut ya Akhii ( Diamlah wahai saudaraku) “
Dengan tenang Hasan meminta adiknya untuk diam. Bagi Hasan ketenangan umat lebih penting daripada ego-nya yang tidak tahan mendengar ayahnya diperolok. Mulai hari itupun Muawwiyah menggantikan Hasan menjadi pemimpin umat islam.

Singkat cerita, Muawwiyah memimpin sampai kurang lebih 20 tahun. Sampai Hasan pun meninggal dunia. Sampai selama itu pun, Husein tetap menjadi warga yang baik dan tidak melakukan apapun yang dapat meresahkan warga Madinah, walaupun kenyataannya dia tidak menganggap Muawwiyah sebagai pemimpin. Dia bersama-sama keluarganya pun pindah ke makkah.

Sampai akhirnya Muawwiyah semakin tua dan memutuskan untuk mengutus anaknya yang bernama Yazid untuk menjadi pemimpin menggantikan kedudukannya. Sebelum wafat Muawwiyah berpesan kepada anaknya :

Wahai anak-ku, nanti ketika kau menjadi pemimpin, ada tiga orang yang patut kau berhati-hati dengan keberadaan mereka. Yang pertama Abdullah bin Umar (Anak dari Syd. Umar Bin Khattab) Dia adalah orang pemberani dan cukup berpengaruh. Namun sekarang dia nampaknya telah menjadi ahli ibadah, sehingga tidak terlalu mengikuti perkembangan ke-khalifaan. Yang Kedua adalah Husein Bin Ali bin Abi Thalib. Berhati-hatilah padanya. Bila dia melakukan sesuatu yag mencurigakan, maka tindaklah dia. Namun Maafkanlah dia, ingatlah bahwa ia merupakan Cucu dari Rasulullah. Yang ketiga Adalah Abdullah Bin Zubair. Dia juga merupakan orang pemberani dan kritis. Apabila dia melakukan sesuatu yang mencurigakan maka habisi saja dia.

Tidak lama setelahnya Yazid-pun menjadi pemimpin. Kabar ini segera disampaikan ke seluruh tanah Arab. Khusus untuk Husein, Sebagai seorang Cucu Rasulullah, Yazid meminta Gubernur Makkah untuk mengabarkan kepadanya, dan memintanya untuk membaiat Yazid (bersumpah untuk mengakuinya sebagai pemimpin).

Mendengar ini Husein kaget. Bagaimana bisa pemimpin yang seharusnya ditentukan oleh musyawarah tiba-tiba diberikan begitu saja hanya karena dia anak Muawwiyah. Terlebih lagi catatan keburukan yazid yang telah Husein dengar selama ini. Muawwiyah saja dia tidak setuju apalagi Yazid. Hampir saja terjadi pertumpahan darah kalau saja Gubernur tidak menghalagi pendukung yazid untuk mengunuskan pedangnya kepada Syd. Husein.

Ternyata ketidak setujuan terhadap Yazid, tidak hanya oleh Husein. Tidak lama setelah pertemuannya dengan Gubernur Makkah, Husein mendapatkan surat dari daerah Kuffah bahwa disana terdapat ribuan orang yang siap untuk mengumpulkan kekuatan dan menegakkan kebenaran. Sebagai cucu Rasulullah, Kepercayaan dan harapan umat semua jatuh padanya. Husein pun tergerak untuk melakukan sesuatu. Husein pun mengirim sepupunya yang bernama Muslim Bin Aqil bin Abi Thalib  untuk pergi ke Kuffah dan melihat kondisi di sana. Husein mempercayainya karena Muslim terkenal sebagai ahli strategi dan pintar. Sesampainya di Kuffah Muslim menemui bahwa warga kuffah memang benar-benar mendukung Husein. Iapun mengirim surat kepada Husein untuk segera hijrah ke Kuffah.

Mendapat kabar dari Kuffah, Husein mempersiapkan keberangkatan dan memohon pamit kepada sahabat-sahabat  salah satunya Abdullah bin Abbas. Sebenarnya Abdullah bin Abbas tidak setuju dengan kepergian Husein. Karena berdasarkan pengalamannya, orang-orang Kuffah adalah termasuk diantara orang-orang yang menghianati Ali bin Abi Thalib. Namun keputusan Husein sudah bulat. Dengan berpegang pada kabar dari Muslim, Husein tetap pergi ke kuffah pada tanggal 8Dzulhijjah.

Mendengar persiapan keberangkatan Husein, Yazid mengutus pengikutnya untuk menindak apabila Husein melakukan hal-hal yang mencurigakan. Dua orang pengikut Yazid adalah Ubaydillah dan Umar bin Saad Bin Abi Waqash ( anak dari Saad bin Abi Waqash, salah satu sahabat terbaik Nabi). Mereka sampai di Kuffah jauh sebelum Husein dan keluarganya sampai.

Di Kuffah, kedua utusan Yazid mengimingi penduduk Kuffah untuk tidak mendukung Husein. Hanya dengan segelintir harta, penduduk yang tadinya mendukung Husein berbalik menyetujui untuk berhenti memberikan dukungan dan mengakui kepemimpinan Yazid. Tidak hanya itu Ubaydillah dan Umar bin Saad mencari dan menemukan Muslim bin Aqil sebagai seorang mata-mata Husein. Karena itu mereka memutuskan untuk membunuh Muslim. Di saat-saat sebelum pembunuhan Muslim menangis

“ Hei Muslim, Bukankah kau Jagoan yang berani membela Husein.Mengapa sekarang kau menangis hanya karena hal ini ?”.

“Sungguh aku tidak menangis karena takut kalian bunuh. Tetapi aku menangis karena aku sudah terlanjur memberi tahu saudaraku bahwa disini aman dan banyak yang mendukungnya”

Tidak lama setelahnya pun Muslim dibunuh.

Di awal perjalanan panjangnya, Husein dan pengikutnya yang tidak lain adalah saudara-saudara seayah, sepupu-sepupu, dan keponakan-keponakannya serta beberapa sahabat yang berjumlah kurang dari 100 orang bertemu dengan seorang calon haji yang berasal dari kuffah. Ternyata dia adalah penyair. Husein pun menyapanya dan bertanya bagaimana keadaan Penduduk Kuffah.

“Wahai cucu Rasulullah, Sesungguhnya hati mereka untukmu. Namun pedang mereka juga lah yang akan menghabisimu”

Mendengar perkataan penyair tersebut husein tidak gentar dan melanjutkan perjalanannya. Sampai dia mendapat kabar yang sangat akurat bahwa Muslim telah dibunuh dan penduduk kuffah telah berkhianat. Mengetahui hal ini Husein berkata pada saudara-saudaranya
  “ Kita sudah mengetahui keadaan yang sesungguhnya sekarang. Apabila kalian ingin pulang, maka pulanglah. Sungguh aku tidak menganggap kalian penghianat. Namun aku akan terus kesana karena kita sudah sangat dekat. “

Namun tidak ada satupun dari mereka yang gentar. Merekapun melanjutkan perjalanan dan sampai di kuffah.

Sampai disana mereka melihat pasukan musuh sudah tidak terhitung jumlahnya. Husein dan keluarganya pun menyingkir ke padang Karbala untuk membuat tenda mempersiapkan apa yang mereka punya. Mereka sadar bahwa mereka akan berperang. Jumlah dari laki-laki yang siap untuk bertempur hanya 72 orang. Mereka hanya menyisakan perempuan dan dua orang anak laki-laki. Yang satu merupakan anak dari Husein yang bernama Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang berumur 18-19 tahun. Ia tetap di tenda karena sakit. Satu lagi laki-laki yang tinggal di tenda adalah Hasan bin Hasan  Ali bin Abi Thalib yan masih sangat kecil. Mereka ditemani oleh Zainab binti Ali, saudara perempuan Husein.

Di padang karbala mereka terpojok. Ribuan pasukan yang dipimpin oleh Umar bin Saad mengepung mereka yang hanya 72 orang Perang ini di awali diskusi dan semacam negosiasi, Namun karena inti dari ajakan diskusi adalah tetap agar Syd. Husein mau membaiat Yazid, akhirnya tidak ada kata sepakat diantara merka. Akhir perang ini pun tragis bagi keluarga Husein. Mereka kalah karena jumlah yang tidak sepadan.

AL-Imam Husein Bin Ali Bin Abi Thalib wafat dengan 33 tusukan tombak dan panah. Juga 34 tebasan pedang memenuhi badannya. Kepalanya pun di potong dan di bawa untuk diserahkan ke Yazid. Setelah menghabsi semua yang ikut berperang, mereka pun menghampiri tenda dan mencari sisa pasukan. Mereka pun menemi kedua anak dan Zainab. Ketika hendak membunuh Ali bin Husein, Zainab teriak
“Dami Allah,tidak akan kubiarkan kau menyentuh anak ini selagi aku masih hidup.”

Dipeluknya erat-erat kedua anak tersebut. Atas Ridho Allah, pasukan pun tidak jadi membunuh yang tersisa. Mereka hanya ditawan dan dikembalikan ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Ubaydillah membawa kepala Husein dan menunjukkan kepada penduduk madinah. Dengan sadis dia memainkan pedangnya ke kepala Husein yang sudah terpenggal. Anas Bin Malik yang melihatnya menangis  berkata.
“Demi Allah aku melihat Rasulullah menciumi wajah itu”

Setelah keadian itu sisa keluarga Rasulullah tinggal di Madinah. Ali bin Husein yang tadi masih kecil melanjutkan hidupnya bersama Bibi-nya. Ali sampai dewasanya memilih untuk tidak terlibat dalam politik dan tidak membalas dendam kepada pembunuh keluarganya. Ali memutuskan untuk menjadi Ahli ibadah, sehingga orang-orang menyebutnya Ali Zainal Abidin ( Ali yang sangat baik ibadahnya). Para pembunuh tersebut pun akhirnya dibunuh oleh masyarakat yang mengamuk setelah mengetahui pembantaian keluarga Husein.

Sebelom ngomong apa-apa lagi gue mao ngasoh dulu sebentar *ngasoh beberapa menit karena pegel ngetik*

Cerita ini gue jabarkan bukan dengan maksud apa-apa. Cuma mau berbagi sejarah aja. Karena banyaaaaaakkkkk banget pelajaran yang bisa diambil di cerita ini. Tentang pemimpin yang baik dan yang buruk. Tentang adik yang patuh kepada kakaknya. Dan tentang perlunya menegakkan kebenaran walopun susah.  Mudah-mudah kita bisa ambil intisarinya dan jadiin pedoman buat hidup kita sehari-hari.

Btw jari ude keriting nih.maap kalo banyak Typo. nanti beresin lagi dah See yaa.. Assalamualaikum.

Thursday, December 8, 2011

Ibnu Mas'ud

Para sahabat berkumpul untuk mendiskusikan siapa yang kira-kira berani membaca Al-quran di depan ka’bah. Karena penjagaan dari abu Jahal dan teman-temannya yang begitu ketat, membaca Al-quran menjadi hal yang sangat sulit di lakukan. Akhirnya ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk membacanya. Namanya Ibnu Mas’ud. Perawakannya yang paling kecil bila dibandingkan dengan sahabat lainnya.

Setelah mendapatkan izin dari Rasulullah, Ibnu Mas’ud pun memberanikan diri membaca Al-quran dengan lantang di depan Ka’bah. Merasa terganggu dengan yang dilakukan ibnu Mas’ud, Abu Jahal mendekatinya dan menyuruhnya untuk berhenti. Ibnu mas’ud tidak gentar dan terus membaca. Abu Jahal menunduk dan kembali memperingatkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti. Ibnu mas’ud tetap dengan pendiriannya. Walaupun dengan suara yang mulai bergetar, beliau tetap membacakan al-quran. Setelah habis kesabaran, akhirnya Abu Jahal memukul Ibnu Mas’ud sampai terpental. Dari telinganya keluar darah. Ibnu mas’ud tetap membaca sampai akhirnya badannya tidak kuat lagi menahan sakit dan pingsan di hadapan Abu Jahal.

Mendengar peristiwa yang dialami sahabatnya, Rasulullah menghampiri Ibnu mas’ud. Rasulullah mengusap telinga Ibnu Mas’ud dan berkata :

“tenang saja sahabatku, akan tiba waktunya untukmu”

Apa yang disampaikan Rasulullah pun menjadi kenyataan. Ketika perang Badar, Abu Jahal tumbang di tangan Rasulullah. Beliau pun meminta sahabat untuk memanggil Ibnu Mas’ud.

“Inilah kewajibanmu wahai sahabatku, bunuhlah dia dengan baik “

Ibnu Mas’ud dengan badannya yang kecil menungggangi badan Abu Jahal dan bersiap untuk memotong lehernya. Namun disaat yang sama Abu Jahal meminta Ibnu Mas’ud untuk mendekatkan kepalanya. Subhanallah, Mungkin dia mau bertaubat. Pikir Ibnu Mas’ud. Tetapi kenyataannya berbeda. Dalam keadaan yang terjepit, bu Jahal berkata :

“Katakan Pada sahabatmu (Rasulullah), Aku adalah musuhnya, di dunia dan akhirat”

Mendengar perkataannya, tanpa pikir panjang, Ibnu Mas’ud langsung memenggal kepala Abu jahal, dan membawanya kehadapan Rasulullah.

“Kau tahu, wahai Rasulullah, sebelum aku penggal kepalanya, dia berkata bahwa ia adalah musuhmu di dunia dan akhirat”

Rasulullah hanya tersenyum dan berkata

“Ternyata Firaun untuk umatku jebih jahat dibandingkan Firaun untuk Ummat Nabi Mussa”*

------------------------------------------------

*Firaun di Zaman Nabi Musa memohon ampunan kepada Allah ketika dia dan pasukannya gagal menangkap Nabi Mussa dan tenggelam di lautan.

Saturday, August 13, 2011

Thaif

Pada tahun 10 kenabian, Rasulullah dan Zaid Ibn Haritsah memutuskan untuk melebarkan sayap dakwah ke daerah Thaif. Salah satu kota di Arab ini merupakan daerah pegunungan. Kurang lebih perjalanan 3 hari 3 malam dengan menggunakan unta, mereka pun akhirnya berhasil bertemu dengan raja yang berkuasa di Thaif.

Apa yang membawa kalian ke sini ?

maksud kami kedatangan kami adalah untuk mengabarkan berita penting.

Apa itu ?

Kami akan mengabarkan bahwa Sesungguhnya tiada tuhan selain Allah. Dan saya, Muhammad, adalah utusannya.

Sejenak ruangan itu diam dan hening. Penguasa Thaif tersebut tadinya hanya tersenyum kecil. Namun beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Diikuti pula oleh semua pengikutnya.

Apa kau gila, kalaupun Allah mengutus utusannya ke bumi, mengapa harus kau? Pria kurus yang kecil. Masih banyak pemuda Quraisy yang gagah dan besar-besar.

Zaid dan Rasulullah hanya bisa terdiam. Mereka pun di usir tak lama setelahnya. Bukan hanya itu, para penguasa Thaif menyuruh anak-anak melempari Rasulullah dan zaid dengan bebatuan. Mereka yang baru saja tiba dari perjalanan jauh tidak bisa cepat berlari, sehingga baru-batu yang dilemparkan tepat mengenai badan-badan dan melukai mereka bahkan sampai mengeluarkan darah. Mereka pun akhirnya dapat bersembunyi dibalik bebatuan yang tidak terlihat oleh gerombolan anak tadi.

Ketika mereka duduk dibelakan batu datanglah Malaikat yang menghampiri Rasulullah.

Wahai Rasulullah, Dengan besarnya cinta Allah kepadamu, Apabila kamu mau, akan aku tabrakkan gunung-gunung ini sehingga hancurlah Thaif

Tidakk.. tidakk.. sungguh mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jika mereka tahu, pasti tidak akan begini. Lagipula, kalaupun sekarang mereka tidak percaya kepadaku, mungkin saja nanti ada diantara keturunan mereka yang akan percaya.

Malaikat pun naik lagi ke langit. Rasulullah kembali terengah-engah karena kelelahan.

Apakan kau baik-baik saja wahai Rasulullah

Tidak apa-apa Zaid. Aku baik-baik saja

Zaid menatap orang yang sangat di hormatinya itu. Badannya bersimbah darah. Giginya patah. Matanya mulai berair. Namun wajahnya masih tersenyum. Tidak lama kemudian, Rasulullah pun mengangkat tangannya dan berdoa :

Ya Allah, Aku memohon ampun atas keterbatasanku dalam penyelesaian segala urusan. Tapi aku Pasti akan baik- baik saja selama Engkau tidak marah kepadaku

Friday, May 27, 2011

friend and ship

“Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya..”

Hadist Riwayat Al-Hakim


Apasih arti sahabat buat lo?

Penting ga sih dia ?

Kalo lo tanya gue, jawabnya tentu aja penting. Jujur aja nih, gue paling ga bisa sendirian. Gue inget banget, waktu jaman kuliah, gue paling bête kalo ga ketemu temen2 gue dan harus sendirian seharian di Kampus. Apa lagi waktu jadwal kuliah gue sama temen2 gue udah beda2. ngerjain tugas sendiri, nyari bahan sendiri, UTS sendiri UAS sendiri. Ga enak banget deh pokoknya.

Konsep sahabat secara umum emang menggambarkan seseorang -atau lebih- yang dekat dengan kita. Berbeda dengan teman biasa, seorang sahabat biasanya mempunyai hubungan batin yang lebih kuat.

Konsep sahabat sendiri sudah ada dari jaman dulu. Nabi Muhammad SAW aja sahabatnya banyak banget. Persahabatan pada zaman itu bukan sekedar persahabatan biasa dengan aktifitas yang biasa dilakukan oleh orang zaman sekarang. Persahabatan pada zaman itu dibuktikan langsung dengan kesetiaan dan juga pengorbanan. Oleh karena itu Nabi sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Karena sahabatnya banyak dan dengan karakter yang berragam, Nabi pun menunjukkan kekagumannya kepada sahabatnya dengan unkapan yang berbeda. Berikut ini gue akan menunjukkan kecintaan Nabi kepada Sahabat-sahabatnya melalui ungkapan-ungkapan beliau.

1. Abubakar Assiddiq RA

“Kalau ditimbang segumpal keimanan di hati Abubakar dan dibandingkan dengan keimanan seluruh ummatku di Dunia, maka timbangan keimanan Abubakar akan lebih berat

Abubakar RA adalah sahabat No.1 disisi Rasulullah. Hal ini Karena ia merupakan Orang pertama –setelah Syd. Khadijah- yang masuk agama Allah. Disaat-saat awal pembuktian kerasulan adalah masa-masa yang sulit. Mengumpulkan orang-orang agar percaya kepada Rasulullah bukanlah hal yang mudah. Namun Abuubakar adalah orang pertama yang percaya. Dan pengorbanan materi maupun fisik darinya sudah tidak dapat diragukan lagi. Kecintaan Rasullullah pada Abubakar juga bisa tergambarkan melalui hadist ini nih :

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (Bukhari dan Muslim)

2. Umar Bin Khatab RA

Wahai Ibnu Khathab, demi Dzat yang jiwaku berada didalam genggaman telapak tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu ketika melewati jalan kecuali dia pasti akan mencari jalan lain yang tidak engkau lewati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Umar memang terkenal dengan ketegasannya. Dari sebelum Masuk Islam, Umar sudah terkenal dan disegani karena keberanian dan kekuatannya. Setelah memeluk Islam ketegasannya tidak meluntur. Ia sangat membantu Rasulullah dengan segala kekuatan yang dia punya, demi tegaknya Islam di Makkah.

"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar."

3. Utsman Bin Affan RA

“Ya Allah.. Aku ridha kepadanya (Utsman), maka ridhailah dia'.”

Utsman Bin Affan RA adalah seorang yang sangat kaya raya. Namun, semua kekayaannya digunakan untuk membantu perjuangan Rasulullah. Ketika berperang, Utsman menyediakan ratusan unta untuk kaum muslimin. Dan Rasulullah pu berkata :

“Sesungguhnya Utsman tidak akan kekurangan dengan apa yang telah Ia berikan.”

4. Ali bin Abi Thalib RA

‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”

Syd. Ali adalah Sahabat sekaligus sepupu Rasulullah. Beliau adalah Anak dari Abu Thalib, paman rasulullah. Syd ali pun akhirnya menikah dengan Syd. Fathimah, Putri dari Rasululah. Syd. Ali juga sangat terkenal denga kecerdasannya. Dia sering diminta untuk memecahkan permasalahan orang-orang Makkah pada zaman itu.

“Kalau Aku lautan Ilmu, Maka Ali adalah pintunya”

5. Bilal Bin Rabbah RA

Seperti yang kita semua tahu, Bilal adalah muadzin pertama di dunia. Dia adalah budak, yang karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah, selalu disiksa oleh majikannya. Adalah Abubakar RA yang akhirnya membebaskan bilal dari perbudakan dengan membayar sejumlah dirham kepada pemiliknya yang terdahulu. Selain suaranya yang indah, bilal juga terkenal sebagai orang yang selalu menyimpan wudhunya, dan selalu melakukan sholat sunnah setelah berwudhu. Melihat kebiasaan bilal tersebut rasulullah berkata kepada Bilal :

“ Kau tahu Bilal, sesungguhnya aku telah mendengar jejak-jejak langkahmu di Surga”

---------------------------------------

I present this post for my best Five yang lagi sibuk sama urusannya masing-masing

Hanna Ariani Perdana

Janeth Octaviany

Sabatini Hutabarat

Shanti Ayu Prawitasari

Siti Manggar Fathani

“kita ga butuh pengorbanan yang sulit kaya cerita-cerita diatas kok. Kita Cuma butuh pengertian dan quality time sepertinya”

Monday, April 25, 2011

Bukan karena Ia cantik...

Saat menjadi Amirul mu’minin, sayyidina Umar merupakan pemimpin yang sangat tegas dan bijaksana. Tentu saja dia berkaca pada kpemimpinan Rasulullah dan Abibakr, pemimpin-pemimpin yang terdahulu. Bahkan Umar merupakan pemimpin yang tidak pernah tidur kecuali bila ketiduran. Dimalam hari, Umar biasanya berkeliling kota sendirian, untuk memeriksa keadaan ummat pada zaman itu.

Di satu malam, Umar melakukan rutinitasnya seperti biasa. Ia berkeliling dan mendengar namanya disebut-sebut dalam percakapan di suatu rumah yang sangat kecil.

“Ayo kita campurkan susu ini dengan air, supaya menjadi lebih banyak dan kita bisa untung besok” Terdengar suara seorang perempuan paruh baya.

“ Tapi ibu, aku takut. Kemarin aku mendengar ceramah dari Amirul Mu’minin di tengah kota. Dia berkata, Barang siapa yang mencampur susu dengan Air dalam berdagang, maka nanti di saat pembalasan dia akan dipaksa untuk memisahkan susu tersebut dari Air. Kali ini yang terdengar adalah suara perempuan muda.

“Sudahlah, kamu tidak perlu takut. Bukankah Amirul Mu’minin tidak mengetahui perbuatan kita” Perempuan tersebut berusaha meyakinkan.

“Tapi bu, bukankah Tuhannya Amirul Mu’minin melihat kita. Bukankah Tuhannya Amirul mu’minin mengamati pergerakan kita ?”

Mendengar perkataan tersebut, Umar seakan menemukan subuah mutiara di atas pasir.


Keesokan harinya dia bertanya kepada salah satu sahabat

“Apakah kau tahu Rumah siapa itu “ Tanya Umar

“Aku tidak tahu wahai Amirul mu’minin, yang aku tahu, dirumah itu tinggal seorang Janda bersama Anak gadisnya” sahabat tersebut menjelaskan kepada Umar.

“ Apakah usia anak itu sudah layak untuk dinikahi ?” Tanya Umar lagi

“Sepertinya Sudah wahai Amirul Mu’minin”

Mendengar jawaban dari sahabatnya Umar pulang dengan hati lega. Dia tahu dia telah jatuh hati dengan gadis ini. Tanpa melihat rupanya, tanpa mengetahui namanya. Dia jatuh hati karena kecintaan Gadis tersebut dan rasa takutnya kepada Allah.


Sesampainya di Rumah, Umar mengumpulkan anak-anak laki-lakinya. Umar kemidian berkata:

“Anak-anakku, aku merasa bahwa usia kalian sudah sangat pas untuk menikah. Apakah ada diantara kalian yang imau menikahi seorang gadis yang miskin, yang Ayah tidak tahu namanya. Ayah juga tidak tahu rupanya. Ayah bahkan tidak tahu garis keturunannya. Tapi Ayah tahu bahwa dia adalah gadis yang cinta dan takut kepada Allah.”

Mendengar perkataan Ayahnya, Anak-anak Umar hanya terdiam. Tidak ada satu pun diantara mereka yang memberikan pendapat. Melihat reaksi mereka, Umar lalu berkata :

“Apabila tidak ada dari kalian yang mau, maka Ayah yang akan menikahi gadis tersebut!”

Setelah itu Umar melihat satu dari anaknya mengacungkan tangan

“Aku mau wahai Ayah. Bukan karena apa-apa, tetapi karena aku percaya bahwa yang ayah pilihkan untukku pastilah yang terbaik di sisi Allah dan Rasulullah.”

Monday, March 14, 2011

Endless Regret

Salah satu sahabat Rasulullah kerap melihat Sayyidina Umar terwawa-tawa sendiri, lalu tak lama kemudian menangis sampai segukan tangis-nya terdengar jelas. Karena penasaran, sahabat tersebut akhirnya bertanya lagsung kepada Sayyidina Umar.

“Wahai Umar, sesungguhnya aku sering melihatmu tertawa-tawa lalu menangis. Kalau boleh tau, apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?”

Sambil tetap tersenyum, Umar mulai bercerita kepada sahabatnya.

“yang membuatku melakukan kedua hal tersebut adalah ingatanku kepada masa dimana aku masih merupakan kelompok orang-orang yang bodoh (jahiliyyah). Aku tertawa-tawa sampai geli ketika aku mengingat dulu aku masih menyembah berhala. Ada beberapa berhala yang kami buat dari tepung yang dikeraskan. Namun, ketika kami kesulitan makanan kami mulai memotong bagian demi bagian dari berhla tersebut untuk memakannya. Mulai dari tangan, kaki, sampai akhirnya berhala tersebut habis tak tersisa. Sungguh aku mentertawakan kebodohan kami. Bagaimana bisa kami memakan Tuhan kami sendiri, yang seharusnya kami hormati dan tinggikan.”

Sayyidina Umar tertawa geli di tengah ceritanya.

“lalu apa yang akhirnya membuatmu menangis wahai Umar?”

Sayyidina Umar menghela nafas yang sangat panjang dan melanjutkan ceritanya.

“Yang membuatku akhirnya menangis adalah kejahatan yang pernah aku lakukan dulu. Sewaktu istriku melahirkan anak perempuan, sungguh ia sangat ketakutan akan keselamatan anak itu. Agar aku tidak membunuh anak perempuan kami seperti orang-orang jahiliyyah lakukan pada putri-putri mereka, akhirnya ia mendandani anak kami dengan pakaian laki-laki. Aku yang tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya sangat senang. Aku banggakan anakku pada semua orang Quraisy.”

Sambil mendengar lanjutan cerita, sahabat melihat air mata yang mengalir ke pipi sayyidina Umar.

“Suatu hari aku ajak anakku jalan-jalan menaiki unta, Saat itu ia berusia sekitar 3 atau 4 tahun. .” Umar melanjutkan ceritanya dalam kepiluan yang sangat nampak.

“Ditengah perjalanan dia mita berhenti sebentar untuk buang air kecil. Kami pun berhenti di sebuah gurun. Alangkah kagetnya aku ketika aku membantu anakku untuk buang air kecil dan mengetahui bahwa ia adalah perempuan kau tahu apa yang aku lakukan ?”

“tidak Umar, Apa yang kau lakukan?”

“ Aku menggali pasir di tempat kami berhenti dan menguburnya hidup-hidup. Dia sempat bertanya kepadaku apa yang sedang aku lakukan. Bahkan ia menyeka keringat di dahiku saat aku kelelahan menggali ..”

“Masya Allah… “ Sahabat pun kehabisan kata-kata

“ Ya sahabatku, hal itulah yang aku tangisi dan sesali dalam hidupku. Sungguh apabila ada 1000 orang umat Rasulullah yang Masuk neraka, aku takut aku merupakan salah satu dari mereka. Kalaupun hanya seratus, sepuluh atau hanya satu orang dari ummat rasulullah yang akhirnya masuk neraka, aku takut itu adalah aku karena dosa ku itu .”

Friday, December 10, 2010

Muhammad Part 3

Gerombolan pedagang dari Makkah akan istirahat sejenak di rumah seorang Pendeta bernama Bukhairo. Dengan senang hati Pendeta memandang gerombolan tersebut dari kejauhan. Ada yang membuatnya agak terkejut. Dipandanginya langit yang terang tanpa awan. Namun ada satu awan yang mengikuti perjalanan gerombolan tersebut. Awan itu berhenti tepat didepan rumah pendeta. Sesampainya di Rumah, Pendeta langsung menjamu para pedagang makan siang, dan ia pun kembali terkejut. Awan tadi sekarang sedang berdiam tepat diatas pepohonan dimana unta-unta pedagang di Istirahatkan.

Dengan penasaran pendeta pun bertanya kepada salah satu dari pedagang.

“ Apa masih ada salah satu diantara kalian yang belum hadir untuk makan ?”

Pedagangpun menjawab :

“Ahh.. Tidak. Semua sudah ada di sini ..”

“Apakah kau Yakin ?” Tanya pendeta kembali.

“Yaaaa.. ada seorang bocah yang ikut membantu kami dalam berdagang. Namun ia bukan bagian dari kami. Sudahlah tidak perlu dihiraukan”.

Setelah mendapatkan jawaban dari pedagang, Pendeta Bukhairo langsung menghampiri kumpulan Unta dan anak yang dimaksud. Pelan-pelan ia Mendekat. Dilihatnya satu lagi Keanehan. Pohon yan besar di dekat rumahnya sekarang berubah posisi menjadi miring. Ia tahu betul bagaimana posisi pohon ini. Dan jelas. Pohon ini menjadi miring untuk menaungi anak kecil yang sedang beristirahat dengan beberapa unta. Sambil memandangi anak tersebut Pendeta Bukhairo berkata dalam hati

“Dialah Nabi Akhir Zaman….”

Friday, November 26, 2010

Muhammad Part 2


Langit hari itu terang dibantu oleh pencahayaan luar biasa oleh surya.

Mereka berjalan menuju medinah, tempat Abdullah di makamkan.

Di perjalanan pulang, tiba-tiba saja Aminah merasakan sakit yang amat sangat.

Hingga Ia meninggal dunia dalam dekapan Ummu Aiman, Hamba sahaya yang Menemani

perjalanan mereka. Muhammad kecil tertunduk Melihat ibunya.

Ibunya yang sudah tidak bernyawa



Tuesday, November 23, 2010

Muhammad Part-1

Dia berumur 15 tahun pada saat itu. Dengan beberapa temannya ia mengunjungi kelahiran seorang anak dari sahabatnya yang bernama Aminah. Di rumah sederhana itu, gadis ini melihat rupa seorang bayi mungil yang sangat tampan.

Salah seorang temannya berkata

“Subhanallah, andaikan saja bayi ini merupakan anakku..”

sahabatnya yang lain pun mengeluarkan opini yang berbeda

“ya Allah, seandainya saja bayi ini adalah adikku..”

Tapi dipikirannya ada hal yang aneh,

dia menyukai anak ini dengan cara yang berbeda.

“Ya Allah, seandainya aku juga masih bayi. Sungguh aku ingin bermain dengan bayi ini. Ya Allah Pasti bahagia bisa dekat dengan bayi ini..”

Ya, Nama nama gadis itu adalah Khadijah, yang sedang menjenguk kelahiran Muhammad SAW