Saturday, October 1, 2011

curahan hati orang ga kritis

Gue ga peduli.

Disaat orang-orang berteriak isu-isu yang lagi IN. Mulai dari HAM sampe Intelejen.

Dari Antasari sampe Arab Saudi. Atau juga rok mini, korupsi dan Bom Bunuh Diri.

Gue juga ga peduli

Saat kritik dimana-mana. Hujatan meraja lela.

Gue ga berbuat apa-apa

Saat ternyata agama yang gue percaya yang di kambing hitamkan.

Gue ga tertarik buat komentar

Saat semua orang berubah jadi pembicara. Ilmu dapat diserap dimana saja, dari siapa saja. Tapi ilmu itu lemah tanpa rangka. Seperti raga tanpa jiwa.

Gue ga mao sok pinter dengan teori

(Yeah, karena mostly juga gue udah lupa)

Karena teori bukan realitas, dan besar kemungkinannya jadi bias.

Gue memilih untuk diam

Ya diam. Walopun nyesek sampe ubun-ubun

Karena banyak orang yang melihat tapi seperti rabun

Dunia maya membuka peluang yang besar untuk setiap orang dengan bebas mengeluarkan isi dalam pikirannya. Tapi disaat yang bersamaan juga menggiring cara pikir kita.

Friday, September 30, 2011

a moment in a million years


My two brothers had influenced their habit to me since I was a kid. It also happened with my taste of music. This is one of my lifetime favorite song.

Sunday, September 18, 2011

commit it !

sekali lagi gue melihat kenyataan pahit yang digambarkan oleh seonggok perasaan yang namanya cinta. menjalin hubungan bertahun-tahun tidak menjamin rasa itu terpagar rapih dan terjaga. seorang teman kehilangan cintanya karena hal-hal yang sama sekali ga masuk logika gue. Alasan "prioritas setiap orang berbeda" itu hanya pembelaan dari ketidakmampuan menjaga komitmen. Tapi, apa kita bisa menjaga komitmen yang emang kita udah ga betah untuk terus ada di dalamnya?

Pada dasarnya setiap perempuan (seharusnya) mempunyai banyak pertimbangan dalam hal memilih pasangan. Baik yang akan dijadikan suami, atau sekedar pacar. pertimbangannyapun memang berbeda-beda. sangat relatif. Tapi satu hal yang penting. Jika komitmen itu sudah (terlanjur) dibuat, maka proseslah yang menentukan jawaban dari semua pertanyaan. proses ketika komitmen itu sudah berlangsung. (yang paling klise adalah) ketika dalam proses ditemukan ketidak-cocokan, komitmen itu akan diputuskan. Kalo masih pacaran ya putus. kalo udah nikah ya bercerai.

putus-nyambung dalam sebuah hubungan (bahkan pernikahan) sekarang udah biasa. yang jadi permasalahan adalah penyebabnya. Jika pemicu putusnya hubungan itu adalah laki-laki, maka itu sudah menjadi hal yang biasa. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi dengan perempuan sehingga menyebabkan rusaknya suatu hubungan, apalagi selingkuh, reaksinya bakal lebih heboh. gue jadi inget pada saat awal2 kuliah, di MK pengantar, ada dosen yang pernah bilang

Jika perempuan melakukan suatu tindak kejahatan, maka reaksi sosial yang muncul akan berganda. pertama karena kejahatan yang dia lakukan. Kedua karena dia perempuan.

Pertama denger gue menganggap rendah orang yang mempunyai pemikiran seperti itu. Tapi untuk kasus terkait dengan topik yang sedang gue bahas sekarang (khususnya kasus temen gue), gue menjilat ludah. Karena disadari ato tidak, gue menyalahkan perempuan itu atas apa2 yang sudah dia lakukan terhadap temen gue. Bahkan setelah gue mencoba memahami kalau dia pasti punya alasan tersendiri untuk menjelaskan pilihannya.

Terlepas dari semuanya, Faktor blom jodoh mungkin merupakan Jawaban paling tepat (dan menenangkan) buat teman gue itu. Karena sekuat apapun kita usaha, kalo memang bukan untuk kita, bahkan air putih-pun tidak akan kita dapatkan.

Friday, September 9, 2011

Desa Tugu, 6-7 September 2011


pekebunan teh desa Tugu



Fathimah - Nadhira - Haniyah




Meet the Cutie, Aisyah




View nya memang Juara !




Haniyah, Si kurus berkaki super panjang :p

Tuesday, August 30, 2011

(>,<) Soul Mate

maybe its intuition
some thing you just dont question
like in your eyes, i see my future in an instant
and there it goes, i think i found my best friend
i know that it might sound more than a little
crazy but i believe

i knew i loved you before i met you
i think i dreamed you into life.
i knew i loved you before i met you
i have been waiting all my life

there just no rhyme or reason
only a sense of completion
but in your eyes i see a missing pieces
i've searching for
i think i found my way home
i know that it might sound more than a little
crazy but i believe

i knew i loved you before i met you
i think i dreamed you into life
i knew i loved you before i met you
i have been waiting all my life

a thousand angles dances around you
i am complete now, i found you


Savage Garden, I knew I loved you

Monday, August 22, 2011

Al Ahzab : 56

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab : 56)

Allah aja bershalawat.

Malaikat Juga bershalawat.

Kenapa kita harus berfikir dua kali.??

:D

Saturday, August 13, 2011

Thaif

Pada tahun 10 kenabian, Rasulullah dan Zaid Ibn Haritsah memutuskan untuk melebarkan sayap dakwah ke daerah Thaif. Salah satu kota di Arab ini merupakan daerah pegunungan. Kurang lebih perjalanan 3 hari 3 malam dengan menggunakan unta, mereka pun akhirnya berhasil bertemu dengan raja yang berkuasa di Thaif.

Apa yang membawa kalian ke sini ?

maksud kami kedatangan kami adalah untuk mengabarkan berita penting.

Apa itu ?

Kami akan mengabarkan bahwa Sesungguhnya tiada tuhan selain Allah. Dan saya, Muhammad, adalah utusannya.

Sejenak ruangan itu diam dan hening. Penguasa Thaif tersebut tadinya hanya tersenyum kecil. Namun beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Diikuti pula oleh semua pengikutnya.

Apa kau gila, kalaupun Allah mengutus utusannya ke bumi, mengapa harus kau? Pria kurus yang kecil. Masih banyak pemuda Quraisy yang gagah dan besar-besar.

Zaid dan Rasulullah hanya bisa terdiam. Mereka pun di usir tak lama setelahnya. Bukan hanya itu, para penguasa Thaif menyuruh anak-anak melempari Rasulullah dan zaid dengan bebatuan. Mereka yang baru saja tiba dari perjalanan jauh tidak bisa cepat berlari, sehingga baru-batu yang dilemparkan tepat mengenai badan-badan dan melukai mereka bahkan sampai mengeluarkan darah. Mereka pun akhirnya dapat bersembunyi dibalik bebatuan yang tidak terlihat oleh gerombolan anak tadi.

Ketika mereka duduk dibelakan batu datanglah Malaikat yang menghampiri Rasulullah.

Wahai Rasulullah, Dengan besarnya cinta Allah kepadamu, Apabila kamu mau, akan aku tabrakkan gunung-gunung ini sehingga hancurlah Thaif

Tidakk.. tidakk.. sungguh mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jika mereka tahu, pasti tidak akan begini. Lagipula, kalaupun sekarang mereka tidak percaya kepadaku, mungkin saja nanti ada diantara keturunan mereka yang akan percaya.

Malaikat pun naik lagi ke langit. Rasulullah kembali terengah-engah karena kelelahan.

Apakan kau baik-baik saja wahai Rasulullah

Tidak apa-apa Zaid. Aku baik-baik saja

Zaid menatap orang yang sangat di hormatinya itu. Badannya bersimbah darah. Giginya patah. Matanya mulai berair. Namun wajahnya masih tersenyum. Tidak lama kemudian, Rasulullah pun mengangkat tangannya dan berdoa :

Ya Allah, Aku memohon ampun atas keterbatasanku dalam penyelesaian segala urusan. Tapi aku Pasti akan baik- baik saja selama Engkau tidak marah kepadaku

Tuesday, August 2, 2011

Aku dan pikiran ku,

Dunia ini semakin gila, pikiran ku mengulang ulang perkataan itu. Aku diam tanpa gerak-gerik pemberontakan. Berpura-pura menganalisa semua yang telah ada. Orang-orang dengan kesombongannya, dan aku dengan kebodohanku. Kebodohan ku mempunyai muara tujuannya. Aku tau dan aku mengerti. Namun, kondisi sekarang yang semakin gila ini mendefinisikan aku sebagai defiant. Tentu saja aku, dan pikiranku. Berbagai kenyataan yang konspiratif sekarang meluap namun aman tak terpecahkan. Fakta itu berputar-putar disekitaran kebohongan yang merajalela. Aku dan pikiranku tak lagi menganalisa. Aku kini bertanya, mengapa Tuhan? Mengapa tidak kunjung kau buktikan. Tunjukkan kehadiranMu sampai akhirnya mereka bisa merasakan cinta dan rindu yang bukan sekedar lelucon.

Aku kembali merenungi kembali konsep berpikir mereka. Setelah mendapatkan jawabannya justru aku yang ketakutan. Aku takut pada orang-orang yang terlalu jumawa dengan pemikiran logika, sedangkan hatinya tidak diajak berdiskusi sama sekali.

Thursday, July 28, 2011

Pak Dungu

Dulu ummi punya buku kumpulan cerita rakyat. Di dalamnya terdapat beberapa cerita pendek yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu favorit gue yang berjudul “Pak Dungu”. Cerita itu akan coba tulis berdasarkan ingatan gue yang seadanya di bawah ini. Konten kata-kata mungkin banyak yg berubah, tapi inti ceritanya dapat dipastikan tetap sama.

PAK DUNGU ( Cerita rakyat Jawa Barat )

Pada zaman dahulu hiduplah seorang miskin bernama Pak Dungu. Ia hidup hanya berdua dengan istrinya. Seperti juga namanya, Pak Dungu adalah seseorang yg kurang cerdas dikarenakan kepolosannya. Seluruh warga desa mengetahui hal ini. Karena itu lah Pak Dungu sering menjadi korban penipuan di desanya sendiri.

Suatu hari pak dungu dan istrinya kekurangan uang untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Tidak ada yang tersisa di rumah mereka melainkan seekor Kerbau kurus. Mehamami situasi yang sulit ini, Istri pak dungu berniat untuk menjual Kerbau tersebut.

“Pak, kita sudah tidak mempunyai apa-apa lagi sekarang. Untuk itu pergilah kau kepasar, dan jual Kerbau ini”

Istri Pak Dungu mulai menjelaskan keadaan mereka pada suaminya.

“Baik lah, aku akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Tetapi, berapa harus ku jual?” Pak Dungu bertanya.

“Juallah dengan harga 300 Rupiah. Ingat pak, tidak kurang dari 300 Rupiah.”

“Baiklah.” Pak Dungu mengiyakan .

Sebelum matahari terbit, Pak Dungu sudah siap untuk berangkat ke pasar yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya. Dengan berbekal nasi bungkus yang disiapkan oleh istrinya, Pak Dungu berjalan menggiring kerbau perlahan-lahan menuju pasar.

Diperjalanan yang cukup panjang, Pak Dungu bertemu dengan Pak Jahat. Seperti juga namanya, orang ini terkenal dengan kejahatannya. Dia menghampiri Pak dungu Dan bertanya :

“Hai Pak Dungu, Kemanakah kau akan pergi ?”

“Saya akan menjual kerbau ini ke pasar wahai Pak Jahat.”

Pak dungu adalah orang yang berhati bersih. Tidak ada terbesit dalam benaknya kalau bisa saja Pak Jahat akan melakukan hal-hal yang dapat merugikannya. Dan benar saja. Mendengar bahwa Pak Dungu akan menjual Kerbau ini ke Pasar, Niat jahat langsung timbul di benaknya. Pak jahat langsung tertawa terbhak-bahak mendengar pernyataan dari Pak Dungu.

“Ahahahahahahaa… yang benar saja Pak. Saya banyak mendengar kalau kamu mendapatkan julukan sebagai orang yang dungu. Tapi saya tidak menyangka bahwa kau memang se-dungu itu.

Pak Dungu langsung bingung mendengar pernyataan dari Pak Jahat.

“Apa Maksud mu, wahai Pak Jahat.”

“ Bagaimana mungkin kau menyebut kambing ini sebagai kerbau pak! Lihat saja, mana mungkin ada kerbau yang kurus seperti itu.”

Pak dungu memperhatikan lagi kerbaunya dengan seksama. Dalam hati timbul keraguan. Benar juga kata Pak Jahat. Binatang ini memang begitu kurus dan kecil. Apa mungkin ini memang bukanlah seekor kerbau. Pak Dungu terpaku melihat binatang yang berdiri di hadapannya. Namun sejenak dia mengingat istrinya. Tidak mungkin istriku membohongiku. Aku percaya padanya.

“Maaf, Pak jahat, Saya banyak mendengar bahwa anda adalah orang yang jahat. Tapi saya tidak menyangka bahwa anda akan sejahat ini.”

Tanpa basa-basi lagi Pak Dungu langsung meninggalkan Pak Jahat sendirian. Namun Pak Jahat Belum akan berhenti sampai keinginannya terpenuhi. Dia langsung menemui pak Licik, yang seperti juga namanya, terkenal akan kelicikannya. Dia meminta kepada Pak Licik untuk membantunya dalam upaya penipuan kepada Pak Dungu.

Setelah beberapa waktu mencari, Akhirnya Pak Licik mendapati Pak Dungu sedang memakan bekal perjalanannya. Pak Dungu duduk di atas batu, dan mengikatkan Kerbaunya di pohon yang terletak dekat dengannya.

“wah, Siapakah yang memiliki Kambing ini?

Perkataan Pak Licik yang tanpa basa-basi membuat Pak Dungu tersedak.

“Hei, Pak Dungu, Aku tidak menyadari keberadaan mu disini. Apakah Kambing itu kepunyaanmu?’.

“Bukankah ini seekor kerbau, wahai Pak Licik, aku baru saja akan menjualnya ke Pasar”

Pak Licik langsung tertawa, persis seperti apa yang dilakukan oleh Pak Jahat

“ Bagaimana mungkin kau menyebut kambing ini sebagai kerbau pak! Lihat saja, mana mungkin ada kerbau yang kurus seperti itu.”

Pak Dungu langsung Terdiam, ia sangat bingung. Sudah dua orang yang menyebut binatang yang ada di hadapannya sebagai seekor kambing. Batinnya berkecamuk perasaan aneh. Dia sadar dirinya bodoh. Mungkin memang saya yang tidak bisa membedakan yang mana yang kerbau, yang mana yang kambing.

“Sudah lah Pak Dungu, bayangkan apabila seisi pasar mengetahui bahwa kau ingin menjual Kerbau tetapi membawa Kambing. Apa kau mau mereka semua menertawakanmu. Bagai mana kalau aku beli saja kambing ini dengan gharga 50 Rupiah. Ini cukup mengingat Kambing yg kau bawa cukup gemuk”

Pak dungu pun menyerah. Ia akhirnya menjual kerbau itu pada Pak Licik. Dengan mendapat uang sebesar 50 Rupiah, Pak Dungu kembali pulang dengan langkah gontai dan pikiran yang masih tidak tenang. Sebenarnya ia pun masih ragu dengan keputusan yang ia buat. Sesampainya di rumah, Pak dungu menceritakan semua kejadian yang terjadi pada istrinya.

“Bagaimana mungkin kau Jual Kerbau kita pada Orang jahat itu pak? Itu jelas kerbau bukan Kambing. Mereka telah menipu mu mentah – mentah”

“Tapi dia memang kecil, binatang itu bukan Kerbau bu, tapi Kambing”

Pak Dungu tetap pada pendiriannya yang salah itu. Sampai akhirnya ia melihat istrinya menangis.

“Bagaimana mungkin kau bisa lebih percaya kepada dua orang jahat itu dibandingkan dengan aku, istrimu sendiri”

Pak Dungu akhirnya tersadarkan. Sekarang ia tahu siapa yang bisa dipercaya dan tidak. Hati pak dungu pun sangat hancur. Bukan hanya karena dia ditupu oleh dua orang itu, tetapi lebih karena dia telah menyakiti hati istrinya begitu dalam. Didalam penyesalannya, Pak Dungu memikirkan cara untuk membalas kejahatan yang dilakukan oleh dua orang tadi.

Entah datang dari mana, Pak Dungu akhirnya mendapatkan ide untuk memberikan pelajaran berharga kepada orang-orang tersebut. Pagi-Pagi sekali di keesokan harinya dia pergi keluar dari rumahnya kembali menuju pasar. Kali ini dia membeli sebuah loncen dari uang yang di berikan Pak Licik Kemarin. Setelah mendapatkan Lonceng yang dimaksud Pak Dungu pun meminta bantuan kepada beberapa penjajan makanan untuk kelancaran rencananya. Hal yang terakhir dia lakukan sebelum melancarkan balasannya adalah mencari Pak Jahat dan Pak Licik.

“Hai Pak jahat dan Pak Licik” Pak Dungu menegur mereka.

“Hai Pak Dungu, Apa Kabar mu”

“Wah, sangat baik. Sebenarnya saya berniat untuk mengajak kalian makan bersama karena kalian telah membantuku untuk membeli Kambing itu.”

Mereka bertiga pun akhirnya berhenti di sebuah tempat makan di dalam pasar. Setelah menghabiskan banyak makanan dan minuman Pak Dungu mengeluarkan Lonceng kecil dan menggerak-gerakkannya sehingga mengeluarkan suara, dan ketika Pak Dungu bertanya berapa uang yang harus dibayarkan, penjual makananpun menjawab dengan santai “Sudah bayar Pak”

Melihat kejadian ini pun Pak Jahat dan Pak Licik menjadi bingung. Namun mereka hanya diam saja sampai Pak dungu mengajak mereka ke penjual pakaian dan melakukan hal yang sama. Mereka kini sangat penasaran. Dan menanyakan hal ini kepada Pak Dungu.

“Apa yang sedang terjadi wahai Pak Dungu, Mengapa mereka memberikan semua yang kau inginkan dengan Cuma-Cuma?”

Pak Dungu langusng memelankan suaranya dan berkata

“Ssssst…. Sebenarnya, setelah menjual Kambingku pada kalian, aku membeli Lonceng ajaib ini dari seorang nenek tua. Dia bilang Padaku bahwa ini adalah lonceng ajaib. Pada awalnya aku tidak percaya, hanya saja nenek tersebut bisa membuktikannya langsung padaku.”

Mendengar perkataan Pak Dungu keduanya memikirkan hal yang sama. Keduanya berrencana untuk kembali mengambil keuntungan dari seseorang yang mereka anggap dungu ini.

“Bagaimana kalau Kau jual Lonceng ini kepada kamu Pak Dungu? Kami akan membeli lonceng itu dengan harga 100 Rupiah. Bagaimana?”

Mendengar perkataan Pak jahat, Pak Dungu tertawa terpingkal-pingkal.

“Apa Kalian gila, sedungu-dungunya saya, saya masih tahu yang mana yang lebih menguntungkan”

“Kalau Begitu kami naikkan harganya menjadi 200 rupiah. Bagai mana Pak Dungu.”

Pak Licik menambahkan

“Mungkin aku akan menjualnya apabila kalian naikkan lagi menjadi 300” Pak Dungu akhrinya menyetujui untuk menjual lonceng ajaibnya.

Dengan sedikit ragu namun senang, Pak jahat dan Pak Licik memberikan uang senilai 300 Rupiah Kepada pak Dungu. Mereka tidak menyangka bahwa Pak Dungu telah menipu mereka. Setelah transaksi berhasil di lakukan, Pak Dungu kembali pulang ke Rumah dan siap memberitakan kabar gembira ini kepada Istrinya.

Dan kedua orang itu?

Setelah mendapatkan loncengnya, mereka mencoba menggunakannya di beberapa pedagang di Pasar sebelum akhirnya mereka tahu bahwa lonceng tersebut hanya lonceng biasa. Merekapun menjadi bahan lelucon orang-orang di pasar karena telah tertipu oleh orang yang mereka sebut sebagai “dungu”


Kalo ngomongin mengenai pesan moral dari cerita ini, kita akan dapat beberapa. Namun yang paling menarik menurut gue adalah bagian yang bertinta merah. Disitu menggambarkan bagaimana seseorang yang di label sebagai “dungu” oleh masyarakat akhirnya juga mendefinisikan dirinya sendiri dengan cara yang sama. Self Fulfilling Prophecy adalah salah satu dari banyak teori-teori Labeling, yang intinya, kalo seseorang mendefinisikan dirinya sebagai sesuatu, maka hal itu akan benar-benar nyata. Pak Dungu, yang dilabel sebagai orang yang dungu, akhirnya juga mendefinisikan dirinya sendiri sebagai orang yang benar-benar dungu. Konsekuensinya, dia menjadi tidak percaya kepada pemikirannya sendiri dan cenderung akan mudah untuk di jadikan objek kejahatan oleh orang lain.

Wednesday, July 20, 2011

ga ga ga kuat

Menurut gue ada dua cara menanggapi perbedaan yaitu dengan adaptasi atau toleransi. Dalam hal ini gue memilih menggunakan toleransi, terutama perbedaan dengan ‘dia’. Kita memang beda, akui saja. Perbedaan yang sepertinya sepele namun prinsipil. Pernah gue coba buat adaptasi, tapi gagal. Pemikiran gue mungkin terlalu bodoh buat dia, dan sama saja, pemikiran ‘dia’ dan mereka juga ga masuk akal buat gue. Cuma tuhan yang nanti bisa menentukan siapa yang bodoh. Memang benar, Kebenaran tidak memihak. Tapi, jika ada kebenaran, maka pasti ada kesalahan. Dan kesalahan terbesar adalah apabila gue harus beradaptasi dengan pemikiran ‘dia’ dan orang (yang katanya) cerdas lainnya.

Gue sadar kita berbeda. Gue bisa bertoleransi, tapi tidak beradaptasi.